Latar
Belakang dan 9 Orang Pendiri KORIB
Berawal
dari dua orang mahasiwa yang berdiskusi santai dengan ditemani secangkir kopi
berdua dalam kos-kosannya yang membicarakan persoalan kedaerahan atau kondisi kampung
halaman yang membuat resah kami, sebagai generasi muda binuangeun, dan sebagai
kaum terpelajar akhirnya beritikad untuk membuat suatu gerakan dikampung halaman
tercinta
Jika ditinjau secara umum ada 4 (empat) permasalahan
yang menjadi latar belakang sejarah berdirinya KORIB.
1 Gerakan Visioner
Berbagai argumen telah diungkapkan sebab-sebab
kemunduran ummat Islam. Tetapi hanya satu hal yang mendekati kebenaran, yaitu
bahwa kemunduran ummat Islam diawali dengan kemunduran berpikir, bahkan sama
sekali menutup kesempatan untuk berpikir. Ketika ummat Islam terlena dengan
kebesaran dan keagungan masa lalu maka pada saat itu pula kemunduran diundang
datang.
Akibat dari keterbelakangan ummat Islam , maka
munculah gerakan untuk menentang keterbatasan seseorang melaksanakan ajaran
Islam secara benar dan utuh (kaffah). Gerakan ini disebut Gerakan
Pembaharuan. Gerakan Pembaharuan ini ingin mengembalikan ajaran Islam kepada
ajaran yang totalitas, dimana disadari oleh kelompok ini, bahwa Islam bukan
hanya terbatas kepada hal-hal yang sakral saja, melainkan juga merupakan pola
kehidupan manusia secara keseluruhan. Untuk itu sasaran Gerakan Pembaharuan
atau reformasi adalah ingin mengembalikan ajaran Islam kepada proporsi yang
sebenarnya, yang berpedoman kepada Al Qur'an dan Hadist Rassullulah SAW.
2 Situasi Daerah
Dalam situasi daerah yang jarang tersentuh oleh dunia
literasi dan kurang bisa menghargai Ilmu sebagai petunjuk menuntun kepada ayat-ayat yang memberitakan kebeneran
dalam perjalan hidup manusia. Bukan hanya itu jiwa persatuan yang sangat kacau
dalam daerah untuk saling bisa memajukan daerah. Hal ini menjadi persoalan yang
luar biasa, karena melunturkan habbit individualistic atau ego menjadi
persoalan yang dahsyat, dalam menjalani hidup adalah bentuk ke dzaliman
terhadap manusia-manusia lainya jika kita mempertahankan jiwa individualistic.
Sedangkan kita sebagai manusia selalu diajarkan oleh agama dan Negara untuk
saling bahu membahu memajukan daerah dan bisa mewujudkan kesejahteraan bagi
masyaarakat.
Walaupun sudah menjadi hal public bahwa sumber daya
alam di binuangeun, itu sangat luar biasa, sejauh ini pengelolaan yang ter
struktur oleh para pemerintah setempat atau tokoh yang bertanggungjawab kurang
begitu dimaksimalkan, sehingga terjadi komersialisasi keindahan alam binuangeun
yang terus di eksploitasi oleh para korporasi atau elit pemilik modal yang
akhirnya masyarakat golongan bawah semakin merasa kesusahan. Jangankan untuk
bisa membiyai putra-putri untuk melanjutkan belajar (formal atau non formal),
untuk bertahan hidup sekeluarga saja sangat membutuhkan kerja dari pagi sampai
sore dan itupun ditopang dengan penghematan hidup yang luar biasa.
Maka perlu adanya penyadaran yang masif kepada masyrakat untuk bisa memaksimalkan dan
memanfaatkan sumber daya alam tanpa harus merusak untuk kepenitngan bersama
warga masyrakat binuangeun.
3 Degradasi generasi peradaban (SDM)
Hal-hal
diatas menjadi bentuk degradasi untuk generasi peradaban, karena ruang belajar
yang sangat susah, sehingga menimbulkan perspektif negative oleh para calon
tonggak peradaban, seperti pribahasa bahwa perempuan mah tugasnya dapur, kasur
dan sumur. Ataukah perkataan bahwa kenapa harus tinggi-tinggi belajar tokoh
agama sudah ada, para guru dan pengatur Negara sudah ada, ngapain belajar lagi,
cukup cari uang saja yang bisa langsung terasa membantu orang tua.
Dari
kurangnya ilmu yang didapat banyak remaja atau pemuda yang mudah terbawa arus
perkembangan zaman, dan mudah terbawa hanyut oleh tawaran teknologi dengan
beribu juta keindahan game, dan media social lainya, sehingga hal ini menjadi
kurang interaksi secara fisik.
4. Ruang
Berkarya
Dilihat kurang
untuk bagaimana bisa menaungi generasi muda untuk terus berkarya dengan penuh
ke indahan, maka disinilah kami melihat bahwa harus ada wadah untuk bagaimana
bisa berekspresinya generasi muda untuk melatih responds social atau
pengembangan bakat dan tempat belajar yang tidak selalu terikat oleh ruang dan
waktu dan setatus social.
Dengan emapat alasan itu dua pemuda itu mengumpulkan para
remaja yang ada di desa untuk bisa musyawarah tentang keresahan kami
Di malam pertama bulan Ramdhan tahun 2018 disini awal mula terjadi adanya komunitas ini. Pada Malam itu yang berkumpul 9 orang sekaligus pendiri KORB
1. UCHAN
2. HENDRA
3. TYA
4. MUHIDIN
5. WULAN
6. AGIP
7. DANIA
8. RIO
9. PAIK
Dengan sembilan orang itu musyawarah dan menentukan sebuah wadah yang bernama
KORIB. Nama KORIB yang mengusulkan adalah Kang Hendra dan disepakati oleh
kedelapan orang itu, selang satu hari akhirnya beberapa orang tergabung dan
sepakat menyatakan diri tanpa paksaan bergabung dengan KORIB dan menyukseskan
kegiatan Tarhib Ramadhan dan Santunan anak Yatim sekaligus deklarasi KORIB pada
11 Juni Tahun 2018 oleh kepala Desa
Muara yang diwakilkan Oleh kang yogi. Adapun kelahiran Nama KORIB 16 mei tahun
2018 dan disepakati pada mubes pertama bahwa ulang tahun pada 16 mei.
![]() |
| UCHAN |
![]() |
| AGIP |
![]() |
| PAIK |
![]() |
| DANIA |
![]() |
| HENDRA |
![]() |
| WULAN |
![]() |
| RIO |
![]() |
| MUHIDIN |










Komentar